Kamis, 29 November 2012

Freedom of Jazzpression for JGTC UI 2012


Jazz Goes to Campus 2012: merupakan pesta tahunan bagi pecinta musik jazz bertajuk Freedom of Jazzpression diramaikan oleh sejumlah musisi baik lokal seperti Tompi ft. Funky Thumb, The Groove, Barry Likumahua, Monita Tahela, IYR (Indonesian Youth Generation), Idang Rasidi Syndicate, Faris RM, TULUS, Kuno Kini, dll. Tidak hanya musisi lokal namun juga menghadirkan musisi Internasional seperti Orange Pekoe yang berasal dari Jepang. JGTC sendiri bertempat di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Minggu (25/11/2012).
Hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, terdapat tiga stage pada perhelatan JGTC yang dimeriahkan oleh musisi yang berbeda-beda, stage utama mengusung tema besar dari JGTC sendiri yaitu Freedom of Jazzpression. Stage besar ini menampilkan musisi seperti Monita Tahela, Tompi, Orage Pekoe, dan The Groove.
Kepadatan pengunjung yang mengunjungi stage utama terasa sejak kolaborasi Tompi ft. Funky Thumb yang dimulai dari pukul 20.30 WIB. Tompi membawakan beberapa lagu seperti “Lulu & Siti”, “Menghujam Jantungku”, “Waktu Takkan Mampu”, dia juga menyanyikan “Balonku” yang arransemennya dirubah menjadi bernuansa jazz, ditambah oleh alunan musik dari Funky Thumb. Pada kesempatan kali ini Tompi juga menghadirkan Joey seorang pianis jazz berumur 9 tahun yang memperlihatkan kepiawaiannya memainkan tuts piano. Tompi membuat penonton histeris ketika melakukan teknik bernyanyi yang cukup sulit ditambah dengan kepiawaian permainan saxophone Dammez Nababan salah satu personel Funky Thumb.
Masih di stage yang sama setelah penampilan Tompi kini giliran Duo Orange Pekoe,  Tomoko Nagashima (vokal) dan Kazuma Fujimoto (gitaris), tampil memeriahkan Jazz Goes To Campus (JGTC) ke-35. Duo asal Jepang itu tampil cukup malam, sekitar pukul 22.30 WIB. Animo penonton cukup besar untuk menyaksikan grup bentukan tahun 1998 yang mengusung bossanove itu.
"Senang ketemu kalian. Mau senang-senang?" ucap Nagashima terbata-bata berusaha menyapa penonton, sambil membaca kertas yang telah ia persiapkan.
Penonton pun riuh menanggapi usaha Nagashima untuk menyapa penonton JGTC malam itu dengan bahasa Indonesia.
Kendala bahasa tidak menyurutkan penonton panggung Jazzpression malam itu. Semua lagu yang mereka bawakan berbahasa Jepang. Meski begitu, penonton tetap antusias meski tidak mengerti apa yang diucapkan duo asal Jepang itu.
Orange Pekoe juga melakukan kolaborasi dengan pemain saxophone muda asal Indonesia Dennis Junio, yang membuat penonton semakin riuh melihat kolaborasi apik keduanya.
JGTC ke-35 kali ini ditutup dengan penampilan The Groove, grup musik Indonesia bergenre jazz bentukan tahun 1997. Grup musik ini beranggotakan Reza (lead Vokal), Rieka Roeslan (Vokal) yang sempat keluar pada tahun 2004 namun pada awal tahun 2012 kembali bergabung kembali dengan The Groove, Arie Firman (Bass), Yuke (Bass), Ari (Guitar), Tanto (Keyboard Synth), Ali (Piano), Rejos (Perkusi & Vokal), Detta (Drum). Penampilan kali ini The Groove membawakan beberapa lagu seperti “Sepi”, “Dahulu”, serta ditutup dengan sebuah lagu yang sudah tidak asing di telinga penggemar The Groove “Khayalan”.

Rabu, 31 Oktober 2012

Harapan itu Telah Mati



Di luar masih gelap gulita bahkan burung pun masih enggan untuk mengeluarkan suaranya, saat kelopak mata Rey mendadak terbuka. Meskipun baru beberapa detik terbangun dari tidurnya, namun ia sudah langsung tersadar.
Akhirnya hari ini tiba juga, Soya masuk kuliah yang sama dengan jurusanku. Soya adalah perempuan yang sudah lama ditaksir oleh Rey abangku.
Kedua mata Rey berbinar, segera ia menggedor-gedor kamarku. “Rani... Rani... cepatlah bangun sudah jam delapan pagi, hari ini pertama kuliahmu.” Serunya. Aku terbangun dan tergeragap dan langsung melompat dari tempat tidur. Kemudian kulihat jam yang berada tepat di atas meja belajarku, aku terkaget ternyata masih jam lima pagi.
“Abanggggg.....!!” Teriakku kesal. “Masih pukul lima pagi kenapa abang bangunin aku sih?”
Sory sory... abang cuma ingin segera mengantarmu dan melihat Soya di kampus, hehehe.” Kata Rey tanpa rasa berdosa karena sudah membuat aku panik.
“Lagian hari ini kan kamu harus ke kampus untuk kuliah pertama kalinya.” Tambahnya, segera mendorongku agar segera masuk ke kamar mandi.
“Cepalah... kamu harus mandi dan sarapan, abang tunggu di bawah.” Cerocosnya sambil keluar dari kamarku.
Setelah sarapan pagi akhirnya aku dan abangku Rey berangkat ke kampus bersama-sama naik motor yang sudah sejak SMA dipakainya sekolah, juga untuk mengantar dan menjemputku.
Abangku dan Soya memang sudah kenal sejak lama, mereka berkenalan ketika bertemu di tempat bimbingan belajar tempat abangku mengajar. Mereka kemudian menjadi akrab dan sama-sama saling suka satu sama lain, tapi sebagai cowok Rey belum berani untuk mengatakan suka kepada Soya, karena Soya masih berstatus SMA. Abangku tidak mau merusak masa SMA Soya dengan berpacaran dengannya.  
Aku dan Soya satu kampus dengan jurusan yang sama, abangku yang memberitahuku kalau kita akan kuliah di jurusan yang sama. Kami baru saja berkenalan, dan ternyata Soya sudah tau aku dari abangku. Tak menyangka ada untungnya juga abangku kenal dengan Soya tak perlu repot-repot aku mencari teman. Soya berperawakan kecil dan sopan serta lemah lembut ketika dia berbicara. Ternyata tidak salah abangku suka dengan Soya, pikirku.
Malam ini Rey akan mendatangi rumah Soya, dan berniat untuk mengatakan semua tentang perasaannya selama ini. Dan meminta Soya untuk menjadi pacarnya.
Hari ini terasa panjang bagiku, karena begitu pertama kali masuk kuliah sederetan soal-soal sudah dijejalkan kepada kami murid baru. Tapi tidak bagi Rey dia begitu bersemangat dimulai dari pagi hari, membangunkanku dan mengantarkanku. Kami berdua bergegas untuk pulang ke rumah. Tapi di perjalanan Rey berkata, “Ran, abang mau beli sebaket bunga mawar dulu untuk diberikan kepada Soya nanti malam.” Aku hanya mengangguk-nganggukan kepalaku ketika abangku bicara. Aku tak ingin merusak kebahagiaan abangku jika mengatakan tidak mau mengantarkannya.
Begitu sampai di rumah, Rey langsung melepas baju yang dipakainya kuliah tadi pagi. Hanya dengan bercelana pendek dan memakai kaos oblong segera menuju meja makan. Tidak seperti biasanya, kali ini dia melahap apapun yang tersaji di meja makan termasuk memakan tempe yang biasanya ogah untuk memakannya. Tanpa protes Rey memakan apapun yang tersaji di meja makan, karena baginya yang terpenting kali ini bukan makan, tapi mempersiapkan segala sesuatu untuk bertemu dengan Soya.
Bi Odah kaget dan seketika bertanya, “Itu kan tempe goreng, Mas. Kok tumben doyan?”
Seketika Rey berhenti mengunyah. Diperhatikan sayuran di piringnya. “Wah, iya ya!” serunya, baru tersadar. “Ah, sudahlah. Teryata rasanya enak juga, meskipun aku sempat berpikir jijik karena membuatnya harus diberi jamur dulu,” sambungnya lalu meneruskan makan dengan lahap. Aku hanya bisa melihat kelakukan aneh abangku yang sedang di mabuk asmara.
“Ran, pinjam hapenya dong. Abang mau menelepon Soya kalau nanti malam abang mau ke rumahnya.” Belum sempat aku mengiyakan, Rey langsung menyambar hapeku di atas meja belajarku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi melihat kelakuan Rey.
“Yesss, akhirnya Soya mengiyakan untuk bertemu denganku nanti malam.” Teriaknya.
Rey kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasurku, mengatakan padaku untuk membangunkannya setengah enam sore tepat dan berpesan jangan menggangu tidurnya. Kembali kuanggukkan kepalaku demi kebahagiaan abangku.
Abang hanya tidur sebentar, itu juga gelisah. Berkali-kali dia mengubah posisi atau menarik napas panjang. Berkai-kali juga dia berguman dalam tidurnya. Kalau tadi ia berpesan jangan mengganggu tidurnya justru sekarang aku yang justru terganggu, belum setengah enam akhirnya Rey bangun dengan sendirinya. Mungkin karena dia sedang gelisah jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Abang gimana tidurnya?”
“Aduh. Aku gelisah banget. Jadi mimpi yang gak jelas nih, Ran.”
“Makanya abang jangan tidur sambil mikir.” Kataku.
“Iya, kali ya?” Rey turun dari tempat tidurku. Dan beranjak ke kamar mandi.

Selesai mandi, dilanjutkan dengan dandan. Aku memperhatikan abang sambil sesekali geleng-geleng kepala dan menahan senyum geli. Baru kali ini aku melihat abang keluar rumah dengan menyisir rambutnya dan menyetrika baju terlebih dahulu. Paling-paling rambut pendeknya hanya dirapikan dengan menggunakan tangannya.
Setelah dia merasa bahwa rambutnya sudah oke, bajuu oke, sepatu juga oke, berikutnya adalah parfum. Rey menyemprotkan parfum kesayangannya dan seketikaaroma wangi tercium sampai ke kamarku ketika dia berjalan melewati kamarku.
Aku tersenyum geli ketika abangku berjalan menuruni tangga dengan perasaan senang dan sedikit-sedikit tersenyum seperti orang gila di pinggir jalan.
Dia mengambil mobil dari garasi, kali ini dia tidak memakai motor entahlah jarang sekali dia memakai mobil hanya sesekali jika memang ada perlu. Sampai di luar pagar rumah, kemnali dia masuk rumah dan berteriak kepadaku “Raniiii.... ambilin baket bunga yang abang beli tadi siang di kamar. Abang lupa membawanya.” aku terkaget dan segera aku menuju kamarnya dan mengambilkan bunga untuknya. “Terimakasih adikku,” sambil mengelus kepalaku. Sebagai seorang adik aku hanya bisa pasrah ketika harus disuruh-suruh Rey abangku.
Sepanjang jalan bisa dibilang Rey nyaris tidak mengeluarkan suara. Ia sibuk memandangi baket bunga yang dia letakkan di kursi samping kemudi. Keringatnya mengucur deras. Mobil yang Rey bawa berhenti menepi di seberang jalan rumah Soya, karena harus memutar lebih jauh jika harus berhenti tepat di depan rumah Soya.
“Soya, aku sudah di seberang berada di seberang rumahmu.” Kata Rey di dalam telepon.
Soya segera menjawab dari dalam telepon, “Iya kak, kau akan segera keluar rumah.”
Bisa dirasakan bahwa Rey gugup ketika akan bertemu dengan Soya. Kecemasan. Ketakutannya. Seluruhnya memuncak pada hari ini. Rey memutar musik kesukaannya, Sembari menunggu Soya di dalam mobil yang diparkir din seberang jalan. Tapi betapa bodohnya kenapa Rey hanya menunggu Soya.
Soya kemudian bilang kepada kedua orang tuannya, bahwa dia akan bertemu dengan Rey di depan rumah. Soya kemudian keluar dari rumahnya, dengan perasaan senang dan tak bisa dilukisakan, ternyata Soya juga sudah menunggu hari ini tiba, semua rasa yang lama disimpan oleh Soya. Tetapi rasa itu telah benar-benar menghilangkan konsentrasi Soya terhadap apapun di sekeliling Soya.
Jalan di sekitar rumah Soya malam itupun lengang. Dengan santainya Soya berjalan keluar rumah, menutup pagar dan berjalan menyeberang jalan. Begitu pula dengan pengemudi mobil sedan yang memanfaatkan kelengangan jalanan sekitar rumah Soya. Dengan santainya berjalan tanpa melihat kanan-kiri bahkan Soya tidak memperdulikan “sesuatu” bergerak semakin cepat.
Rem berdecit dengan kerasnya sampai memekikkan telinga, semua orang bahkan yang di dalam rumah pun bisa mendengar decitan suara rem mobil itu, dan segera berhamburan keluar rumah. Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman. Hanya beberapa hitungan detik. Tidak ada yang bisa dilakukan termasuk Rey, yang segera berlari keluar dari mobilnya tanpa sempat mengambil baket bunga yang telah disipkan sebelumnya. Orang-orang hanya sempat tersentak. Terkesima. Menatap dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Tubuh mungil itupun rebah. Tanpa sempat mengeluarkan sepatah kata apapun. Darah mengalir derasnya. Baju putih yang dipakai Soya memerah karena berlumuran darah. Rey berlari kesetanan dan segera memeluk Soya. Rey duduk bersimpuh di tengah jalan, dengan Soya di dalam pelukan. Sepasang mata yang menatapnya dengan kecemasan namun begitu hidup dan menyala semangat serta membawa sebuah harapan besar, kini telah redup. Bahkan telah mati, karena maut.

Senin, 22 Oktober 2012

Berdua di Kala Senja Tiba


Berdua Kala Senja Tiba

Aku percaya bahwa Cinta itu Sederhana. Bisa ditemukan dimana saja dan kapan saja dan dalam bentuk apa saja (Dominique Diyose)
Setelah sekian lama, tanganku kembali iseng untuk mencorat-coret kertas kosong yang tak terpakai. Aku pun terus mencoret-coret kertas berwarna putih itu, kertas yang tadinya hanya putih kini sudah penuh dengan sebuah gambar. Tak kusadari aku pun menggambarkan sebuah kenangan yang telah lama aku pendam. Sebuah kisah yang telah lama berakhir kembali lagi hadir di dalam benakku yang tertuang dalam gambarku. Kembali terasa hampa ketika aku tau kau sudah bersama lagi dengan orang lain. Ah sudahlah pikirku. Aku hanya bisa menggambarkan ketika kita sedang duduk berdua menghadap ke sebuah sungai ketika senja tiba serta diiringi oleh alunan suara aliran air yang tenang dan sepoi-sepoi angin di kala sore menjelang.
Sedih ketika menatap dan melihat gambar dari coretan tanganku sendiri, entah kenapa kembali ku memikirkanmu di saat kau sudah berdua dengan yang lain. Mungkinkah sesakit ini ketika dulu aku terlalu menyayangimu. Ataukah aku yang tak bisa melepaskanmu. Kini akupun hanya bisa berusaha agar bisa melupakanmu. Aku harus kembali bangkit dengan apa yang ada sekarang. Dan aku yakin aku masih bisa untuk menyayangi orang yang lebih baik darimu.
Aku selalu percaya kisah hidupku masih panjang dengan segala macam cerita yang akan ku lewati dan aku yakin “in every sad story, there’s always happiness coming after”.
Hanya sebuah coretan masa lalu... 😤😤


 

Senin, 24 September 2012

My Fams :)














Semua berawal dari sebuah perkenalan sederhana
Semua hanya terpaku satu sama lain...
Semua hanya bisa saling memandang dengan perasaan masing-masing.....
Pertama ku mencoba tersenyum....
Pertama ku mencoba tertawa....
Tapi hanya sebuah ilusi kosong,
Aku belum mengenal mereka
Aku masih belum bisa tertawa lepas
Aku masih malu dengan kepolosanku...
Aku hanya sendiri menyepi diantara mereka...
Kini ku temukan mereka...
Bersama, berjalan di dalam sebuah roda kehidupan




Kini ku 
menemukan keluargaku.....
Tak lagi ku sendiri menepi,
Tak lagi ku merugi menemukan sebuah impian baru dan keluarga baru....

Suasana di Taman Melingkar Perpustakaan UI


Pagi-pagi sekali aku terbangun. Entah apa yang membuatku terbangun sepagi ini, seperti ada yang membangunkanku bahkan alarm yang biasa membangunkanku belum juga mengeluarkan bunyi nyaringnya. Kubuka jendela kamarku terlihat masih gelap, bahkan ayam pun masih malu-malu rupanya untuk berkokok. Kuputuskan untuk segera masuk ke kamar mandi, dan segera aku mengguryukan dinginnya air ke seluruh tubuhku.
Aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju kampusku. Sendiri aku berjalan menapaki jalanan dengan hiasan daun-daun yang masih berserakan di jalan, meskipun sudah terlihat para penyapu yang mulai membersihkan jalan setapak itu. Sampai aku melewati sebuah jembatan berwarna merah yang menghubungkan antara Fakultas Teknik dan FIB, tak jarang yang menamakan jembatan itu adalah jembatan cinta. Terkejut ketika aku berpapasan dengan seorang pejalan kaki yang tergopoh-gopoh dengan membawa maket berbentuk gedung. Pikirku mungkin dia seorang mahasiswa dari jurusan teknik arsitektur yang harus segera mengumpulkan tugasnya.
Jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 8 pagi, aku memutuskan untuk datang ke kampus pagi ini hanya untuk menemui dosen yang kemarin memintaku untuk membantu mengerjakan pekerjaannya. Kuputuskan duduk di kursi kayu yang terlihat agak tua. Sesekali aku bertanya kepada penjaga apakah dosen yang akan kutemui sudah datang. Tak berapa lama aku memutuskan untuk beranjak ke dalam gedung dan segera duduk di sofa. Terlihat hanya beberapa mahasiswa yang keluar-masuk ke dalam gedung itu, mungkin mereka juga mempunyai tujuan yang sama sepertiku, menemui seorang dosen. Barulah sekitar satu jam menunggu akhirnya dosen yang akan kutemui datang, segera aku menghampirinya.
Pikiranku semakin melayang dengan semua tugas-tugas yang harus kukerjakan, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan menuju sebuah taman di perpustakaan pusat Universitas Indonesia. Kubuka pintu berbahan kaca tebal, tiba-tiba terdengar teriakan yang memanggil namaku, segera kuhampirinya. Kemudian aku duduk di bangku yang terbuat dari semen yang menghadap ke arah danau, di seberang danau itu terlihat sebuah gedung yang baru di renovasi dan gedung tinggi yang sedang dibangun, terdengar kabar bahwa gedung itu merupakan gedung baru untuk mahasiswa kedokteran. Di samping gedung yang belum selesai itu terlihat alat berat yang digunakan untuk membantu pengerjaan pembuatan gedung.
Aku bisa melihat beberapa mahasiswa yang sedang asik mengerjakan tugas-tugasnya dengan name tag yang masih dikalungkan di leher mereka, terlihat bahwa mereka adalah mahasiswa baru yang sedang mengerjakan tugas dari para mahasiswa senior, tak jarang terdengar keluhan mereka. Dari tempat dudukku terlihat penjual makanan yang melewati jalan setapak di samping danau. Tersenyum geli melihat kucing hitam berlari ketakutan ketika seorang mahasiswa yang hendak memegang ekornya. Semakin lama aku duduk dan bercengkrama, semakin banyak mahasiswa yang datang di tempat ini. Mungkin mereka menghabiskan waktu bersama mahasiswa lain hanya untuk sekedar duduk dan bercengkrama seusai perkuliahan atau bahkan mengerjakan tugas kelompok mereka. Sejauh mata memandang terlihat seorang mahasiswa yang sedang asik duduk di samping danau sambil sesekali tersenyum memandang laptop yang dipangkunya.
Langit biru berubah menjadi kemerahan. Lampu-lampu gedung di seberang danau mulai menyala. Begitu pula lampu-lampu yang berada di pinggir jalan setapak juga mulai memancarkan cahaya terangnya. Terlihat dari tempat dudukku, mesin-mesin besar yang dari pagi berderu bekerja untuk membuat gedung tinggi mulai tidak bersuara lagi. Jalanan setapak mulai dipadati mahasiswa yang berlalu-lalang berjalan meninggalkan tempat duduk keras di taman itu. Bahkan terlihat di langit segerombolan burung terbang seakan menandakan bahwa malam akan segera datang.

Senin, 17 September 2012

Asal-Usul Terjadinya Perang Jawa (1825-1830)



Peter Carey
I.     Pendahuluan
Perang Jawa atau biasa di kenal dengan nama Perang Diponegoro yang terjadi pada 1825-1830 merupakan suatu gerakan sosial yang untuk pertama kalinya pemerintahan kolonial menghadapi suatu pemberontakan sosial yang mencakup sebagian besar pulau Jawa, dimana Jawa Tengah dan Jawa Timur serta banyak wilayah-wilayah Pesisir (daerah pantai Utara) terlibat dalam pemberontakan ini. Dua juta orang Jawa atau sama banyaknya dengan sepertiga dari seluruh penduduk Jawa, mengalami akibat dari perang ini, seperempat luas tanah yang telah diolah serta ditanami menderita kerusakan serta sekitar 200.000 orang Jawa menemui ajalnya. Bahkan orang-orang Belanda juga merasakan penderitaan yang ditimbulkan oleh perang tersebut, sekitar 8.000 orang pasukan bangsa Eropa serta 7.000 orang prajurit Jawa, yang berperang demi kepentingan Belanda terbunuh dalam peperangan tersebut. Dalam permasalahan khas negara Belanda juga mengalami kerugian akibat dari Perang Jawa. Belanda harus mengeluarkan uang sebanyak sekitar 20 juta gulden untuk membiayai seluruh pengeluaran yang terjadi sebagai akibat Perang Jawa.
Ketika VOC mengalami kebangkrutan bada akhir abad ke-18 sebagai perseroan dagang dan akhirnya diambil alih oleh pemerintah Belanda yang baru, Republik Batave yang dilahirkan karena intervensi Perancis yang revolusioner. Republik Batave ini merupkan satelit Perancis yang diperkokoh dalam kedudukan ketika adik Napoleon Bonaparte yang menjadi kaisar Perancis dijadikan Raja Louis Napoleon dari Holland. Kerajaan Belanda tersebut dianeksir oleh Perancissampai jatuhnya Napoleon, dan dijadikan kerajaan di bawah dinasti sebelum revolusi yakni keluarga Oranje. Inggris yang melawan revolusi Perancis, dan Napoleon sejak 1729 mengambil alih koloni-koloni Belanda yang juga dianggap musuhnya. Kemudian pada tahun 1811 Pulau Jawa diduduki oleh Inggris dengan Letnan Gubernur Raffles sebagai penguasa di Jawa.

II.  Isi
Peperangan yang terjadi ternyata memberikan Belanda sebuah pengendalian, pengawasan serta penguasaan tanpa batas atas Pulau Jawa yang kemudian dimulailah suatu zaman pemerintahan kolonial yang baru serta beranjak dari diawalinya “Sistem Kultur” (1830-1840) oleh Johannes van den Bosch. Dengan demikian perang itu telah menandai akhir proses kolonialisasi dibawah kekuasaan Daendels (1808-1811), perubahan dari era perdagangan Kompeni Hindia Timur Belanda yang mempunyai hubungan dengan kerajaan-kerajaan Jawa yang terletak di Jawa Tengah yang terlihat hanya mempuyai sifat ambasadorial belaka.
Keadaan sosial yang terjadi bahwa kerajaan-kerajaan yang mempunyai hubungan dengan Belanda hanya menempati kedudukan lebih rendah martabatnya dari pada kedudukan Belanda. Bagi orang Jawa Perang yang terjadi mempunyai arti yang penting dimana untuk pertama kalinya sebuah pemberontakan telah meletus pada salah satu kraton-kraton (istana-istana) Jawa di Jawa Tengah, yang terutama sekali lebih banyak disebabkan oleh permasalahan sosial dan ekonomi. Dalam perang Jawa tidak bisa dilepaskan dengan sosok Pangeran Diponegoro, yang dianggap sebagai Ratu Adil Jawa.
Ketika berlangsungnya Perang Jawa (1825-1830), Diponegoro yang ketika itu bergelar “Sultan Ngaddulkamid Erucakra Karibul Mukminin Sayidin Panataning Jawa Kalifat Rasullah” dianggap Belanda bahwa kekuatan Perang Jawa adalah sebuah daya tarik dari agama. Perang Jawa merupakan sebuah Perang Sabil (Perang Suci) melawan Belanda dan orang-orang Jawa yang menjadi sekutu Belanda. Watak keagamaan yang menjadi sebuah kekuatan Perang Jawa, hal inilah yang membuat Menteri Wilayah Jajahan Belanda C. Th. Elout (1824-1829) menolak berbagai saran yang diajukan sejumlah pejabat Belanda agar Perang diakhiri dengan mengakui Diponegoro sebagai pangeran yang merdeka di Jawa (Sesuai dengan yang dilakukan terhadap Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said di pertengahan abad-18).
Menurut pandangan Elout, pangeran Diponegoro diakui sebagai pangeran pelindung agama (Ratu Panegeg Panatagama) di Jawa. Hubungan ini yang nantinya memberikan sebuah kesan adanya hubungan yang erat dengan masyarakat santri dalam Perang Jawa. Faktor agama ini pula yang telah membuat Perang Jawa benar-benar terpisah dari perjuangan kaum wangsa pada abad ke-17 dan ke-18 (yang mau tidak mau melibatkan Dutch East India Company dalam percaturan politik intern kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah).
  Konsep Perang Sabil yang digunakan pada perang Jawa, merupakan sebuah gambaran dari masyarakat Jawa sendiri mengenai sebuah pengharapan untuk lepas dari sebuah beban penderitaan sosial dan ekonomi yang mulai muncul sejak awal abad ke-19. Konsep tersebut merupakan sebuah hasil yang mereka peroleh dari gambaran-gambaran wayang Jawa (pertunjukan bayangan boneka) serta sentimen-sentimen penduduk asli, yang terdiri dari kedambaan terhadap kembalinya susunan masyarakat tradisional. Dengan keadaan sosial demikian, banyak dari kalangan para pengikut Diponegoro sendiri kemudian menghimpun di dalam suatu wadah bersama para bangsawan, pejabat-pejabat daerah yang diberhentikan, guru-guru keagamaan, bandit-bandit profesional (wong durjana), para buruh angkat barang (batur-batur), buruh harian (bujang-bujang), para petani dan tukang. Dengan demikian perang tersebut merupakan sebuah perwujudan antara keluhan-keluhan yang terjadi diantara masyarakat akibat penderitaan ekonomi dan sosial yang telah melahirkan pergerakan dengan ruang lingkup sosial.
Tidak bisa dipungkiri sebelum terjadinya Perang Jawa terutama pada masa pemerintahan Daendels, ketika pada Juli tahun 1808 Daendels mengumumkan sebuah keputusan resmi yang termasyhur menyangkut sebuah tradisi orang Jawa mengenai “upacara dan etiket”, yang secara radikal kedudukan wakil-wakil bangsa Belanda yang berada di istana-istana serta yang memberikan hantaman pada landasan falsafah politik orang-orang Jawa, dengan membagi kedaulatan Jawa di antara kerajaan-kerajaan Jawa yang terletak di daerah Tengah serta Timur dan wilayah Barat yang dikuasai oleh orang asing. 
Setelah Belanda berhasil menguasai wilayah-wilayah di Jawa, selanjutnya para residen Belanda akan memakai gelar ‘menteri’, sebuah sebutan yang oleh Daendels lebih dianggap lebih pada tempatnya, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai para wakil Raja Louis dari negeri Belanda. Begitupun juga, di dalam sejumlah besar butir-butir kecil masalah tata krama Belanda mengharuskan diterima sebagai orang –orang yang sederajat dengan para penguasa bangsa Jawa. Perubahan-perubahan yang demikian sebenarnya hanya sebagian kecil saja, tetapi kepada para penguasa Jawa tersebut mereka melambangkan suatu perubahan yang mendasar di dalam kedudukan Pemerintahan bangsa Eropa terhadap istana-istana mereka. Keadaan dimana para penguasa Belanda mulai meminta agar diperlakukan sederajat dengan para penguasa Jawa, hal demikian pada akhirnya membuat para bangsa  Eropa semakin terang-terangan untuk mengajukan serta menuntut kedaulatan atas bagian-bagian tanah yang terletak di wilayah Jawa.
Dalam bidang ekonomi, setelah Inggris mengembalikan kekuasaan atas Jawa kepada Belanda sekitar tahun 1816, dimana Nahuys van Burgst menjabat sebagai kepala residen di Jogjakarta. Nahuys merupakan seorang pejabat yang cakap dan mempunyai  sejumlah pengalaman dalam masalah-masalah yang bertalian dengan orang Jawa, bahkan mempunyai hubungan erat dengan para penguasa-penguasa di kalangan pemerintah Belanda. Di dalam kebijakan yang dengan derah-daerah koloni, ia merupakan seorang  “liberal” (yaitu seorang yang menganjurkan dipergunakannya modal perorangan dari Barat), dan ia juga berusaha untuk menerapkan pendapat serta kebijakan ekonomi dan politik dengan cara penyewaan tanah di wilayah-wilayah Jogjakarta. Bahkan ketika berakhirnya jabatan Nihuys sebagai residen di Jogjakarta dalam tahun 1822, tidak kurang dari 115 desa dan bidang tanah yang terpisah-pisah telah berhasil disewakan kepada orang-orang Eropa dan Cina di daerah Jogjakarta serta ditambah lagi sebanyak 166 desa dan bidang tanah di Surakarta.
Untuk bagian yang terbesar tanah-tanah tersebut dipergunakan untuk menanam tanaman-tanaman pangan/komoditi ekspor untuk pasaran Eropa, seperti misalnya gula, kopi, nila, dan merica. Namun demikian, perluasan yang cepat penyewaan tanah di wilayah-wilayah para pangeran itu membawa akibat-akibat yang penting. Banyak para bangsawan dan pejabat-pejabat Jawa mempergunakan kesempatan penyewaan tanah ini untuk mendapatkan kembali kerugian-kerugian yang pernah mereka derita selama masa perampasan-perampasan tanah yang terjadi pada tahun 1808-1812, oleh karena keadaan ini memungkinkan mereka untuk mendapatkan pemasukan yang teratur serta membebaskan mereka dari keharusan melaksanakan pengurusan sendiri atas tanah-tanah mereka tersebut. 
Tetapi peniadaan pengawasan pribadi itu berarti bahwa hubungan paternalistik yang terdapat diantara seorang bangsawan Jawa dengan para penyewa tanahny menjadi menjadi terputus untuk jangka waktu yang tertentu dan uang sewa yang mereka dapatkan dari tanah mereka tidaklah dipergunakan kembali untuk perbaikan maupun penyehatan modal mereka tetapi untuk membeli barang-barang mewah yang didatangkan dari Eropa. Bahkan setelah tahun 1816 terdapat peningkatan pemakaian minuman keras serta penggunaan perabot rumah tangga Eropa, kendaraan-kendaraan serta permainan kartu di kalangan bangsawan Jawa. Bahkan di Surakarta, seperti pangeran Ngabehi, seorang anak laki-laki Pakubuwono IV, memperlengkapi bagian dari pada dalem (tempat tinggalnya) menurut gaya Belanda dari abad ke 17. Bahkan pada beberapa jamuan yang diadakan di Surakarta, seorang tamu Eropa dapat menyaksikan tuan rumahnya sendiri meminum ‘sebalang penuh (anggur) Medeira, disamping kadang ia juga mereguk bergelas-gelas bir dan claret (anggur merah) sekedar untuk memberi variasi. Mungkin inilah kasus yang terlalu ekstrim, tetapi kendatipun Jogjakarta tetap bersifat lebih tradisional, dapat pula dijumpai perubahan-perubahan di dalam gaya hidup mereka. Bahkan Sultan yang ke empat pun, mungkin sekali atas dorongan Nahuys, memerintahkan sejumlah pengawal pribadinya untuk mengenakan seragam bangsa Eropa sementara Sultan sendiri merasa senang untuk mengenakan pakaian mayor jenderal tentara Belanda pada ekskursi-ekskursi berkendaraan di luar keraton.
Bahkan yang lebih penting lagi dari pada hanya sekedar adanya perubahan-perubahan di dalam gaya hidup, yang diakibatkan oleh persewaan tanah, di kalangan anggota keraton tampak sebuah dampak yang telah ditimbulkan atas kelompok-kelompok masyarakat pedesaan, oleh karena sebagai akibat dari pada disewakannya tanah-tanah itu kepada orang-orang Eropa dan Cina bukan saja terjadi pemindahan hak atas tanah saja, tetapi justru di dalam kebanyakan hal, bahkan juga di dalam pemindahan penduduk yang tinggal di atas tanah yang disewakan tersebut.
Keadaan perekonomian di Jawa diperparah lagi dengan diperkenalkannya sistem pajak tanah oleh Raffles. Sistem yang diperkenalkan oleh Raffles tersebut dipandang menguntungkan bagi penduduk setempat, oleh karena dengan sistem tersebut diharapkan akan dapat membebaskan mereka dari corvee dan bea cukai yang dipaksakan serta sebagai gantinya mereka harus membayar sebuah pajak tunggal, dalam bentuk uang yang diperkirakan secara adil, berdasarkan harta benda, kekayaan yang mereka miliki dan selanjutnya mereka bebas untuk menanam tanaman-tanaman pangan/komoditi ekspor untuk memenuhi permintaan pasaran bebas. Lebih jauh lagi, sebuah harapan bagi Raffles bahwa pajak yang ditetapkan tersebut lebih banyak ditetapkan dalam bentuk uang daripada dalam bentuk santunan, telah menimbulkan kesulitan bagi para petani Jawa, yang memang lebih banyak hidup dengan menggunakan sistem tukar-menukar daripada sistem ekonomi keuangan dan akibatnya mereka dipaksa untuk bersandar hidup kepada orang Cina, tukang meminjamkan uang, agar dapat memenuhi kewajiban-kewajiban pembayaran tunai mereka.
Namun sistem pajak tanah yang dilaksanakan juga tidak bisa dilepaskan dari korupsi, korupsi yang dilakukan oleh orang-orang Jawa sendiri yang menjadi pejabat itu kadang-kadang menyebabkan mereka diberhentikan dari kedudukan-kedudukan mereka dan pada tahun-tahun sebelumnya meletusnya Perang Jawa dapat disaksikan di daerah Kedu terjadi pertukaran-pertukaran yang cepat, dimana keadaan daerah tersebut merosot tajam dalam tahun 1821, sebagai akibat dari pada gagal panen yang terjadi serta berjangkitnya epidemi kolera pada tahun tersebut. Kemudian pada bulan Januari 1822 beras mencapai harga puncak mencapai 5,50 gulden per pikul (61, 761 kg), yang telah mengakibatkan timbulnya pemberontakan setempat, yang dipimpin oleh Pangeran Dipasana.
 Revolusi yang terjadi selama Diponegoro hidup bukanlah tercipta di Jawa, melainkan diimpor dari Eropa, yaitu revolusi kembar – industri dan politik – yang merobek rezim lama baik di Eropa maupun di Asia. Dengan kedatangan Daendels pada Januari 1808, sebuah tatanan kehidupan tradisional Jawa mulai dihancurkan, dalam rentang waktu kurang dari satu dekade (1808-1816). Bahkan ketika Gubernur Thomas Stamford Raffles menjabat (1811-1816), tatanan lama kolonial VOC (1603-1799) dihancurkan dan digantikan oleh pemerintahan Hindia-Belanda yang baru yang dimulai tahun 1811. Bahkan Undang-undang dasar (regeerings-reglement) Januari 1818 menetapkan sebuah aturan hukum baru atau rechstaat dan penggantian besar-besaran pemerintah korup VOC dengan pejabat pemerintah jajahan yang baru.
Reformasi inilah yang mengubah Jawa menjadi salah satu daerah jajahan paling menguntungkan di dunia. Hanya dalam selang waktu empat puluh tahun setelah akhir Perang Jawa, Belanda meraup keuntungan yang besar dari hasil Sistem Tanam Paksa (1830-1870). Di bawah sistem tersebut, tanaman niaga seperti gula, teh, kopi, dan nila dibeli dengan harga rendah dari petani-petani Jawa dan dijual dengan harga pasar Internasional. Kekuatan untuk mengeruk laba dengan segala macam cara inilah yang memicu pecahnya Perang Jawa, dimana kekuatan kembar nasionalisme Jawa dan Islam berpadu di bawah panji perang suci Pangeran Diponegoro.

Selasa, 17 Juli 2012

Ilmu=Uang

Tak pernah terbayangkan olehku, ketika harus menghadapi kenyataan bahwa seorang yang namanya "tenar" juga "berilmu" tidak pernah bisa luput dari sebuah kata "uang". Mungkin hanya sebatas kemarahanku semata yang menganggap mereka tidak mempunyai moral memanfaatkan semua peluang untuk mendapatkan "uang".
mungkin jika dipikirkan lagi pasti ada sebuah alasan kenapa mereka mengambil celah yang ada, itu karena mereka juga mempunyai keluarga, harus menghidupi kebutuhannya. 

Senin, 27 Februari 2012

Belajar Maen Piano Nyooookkkkk

Akhir-akhir ini karena terlalu banyak sekali agenda padat yang "red. Kuliah-Perpus-ngerjain Tugas-nonton film" hehehe saking sibuknya bahkan terlalu sering emosi. Nah beberapa waktu lalu tiba-tiba iseng nyari software Piano eh ternyata ketemu dan nyoba untuk main dan ternyata asik lho yah mungkin sih yang baru dimainin cuma lagu ini nih cekidot :D
Twinkle-Twinkle Littkle Star 


Yah iseng2 sih ngilangin stress juga. Kali aja ntar di suruh main di TV mana gitu hehheee #ngareppp mode on

Jumat, 24 Februari 2012

Salah satu gambar yang paling ku sukai :))
Karikatur yang pernah dibuat oleh "Aroon Luhung Santoso" 

Puisi Untuk Ibu

Ibu, Ibu, Ibu
Kulah Nafasku, Kaulah Hidupku
Darimu aku belajar Kehidupan
Kau mengajarkanku arti sebuah pengorbanan
Hanya dirimu yang mengajarkanku untuk bertahan
Ibu, Ibu, Ibu
Hanya dengan memanggil namamu
Aku merasakan kedamaian
Hanya dirimu yang biasa membuat aku tenang
Karenamu aku bisa berdiri Tegak
Menatap masa depan yang semakin dekat
Di pelupuk mata

Selasa, 22 November 2011

Pasar Gedhe Sebagai Pusat Perekonomian di Surakarta Awal Abad 20

Perkembangan Ekonomi Surakarta Awal Abad 20


Selain terkenal dengan Keraton Surakarta, ternyata Surakarta juga berkembang menjadi Pasar Batik Nasional sejak tahun 1870. Keadaan ini juga didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadahi untuk dilaksanakannya perdagangan yaitu jalur kereta api lengkap dengan stasiunnya. Di daerah Purwasari dibangun stasiun yang menghubungkan Surakarta dengan Yogyakarta, kemudian jalur ke Timur, yakni ke jurusan Surabaya dibangunlah stasiun Jebres. Selain ditopang dengan sarana dan prasarana yang memadahi, perkembangan produksi batik mulai dikembangkan secara besar setelah adanya penemuan metode pembuatan batik Cap sejak tahun  1870 dan mengalami perkembangan sehingga mengakibatkan adanya sistem produksi, yang pada akhirnya membawa peningkatan jumlah produksi yang cukup besar sehingga bisa menjangkau pasar yang luas.
Perekonomian Surakarta, secara umum juga ditopang oleh hasil perkebunan, seperti tebu, kopi, tembakau, kina, dan hasil-hasil bumi lainnya. Setelah memasuki abad ke-20, adanya Politik Etis menyebabkan semakin meningkatnya perbaikan irigasi, peningkatan pelayanan kesehatan, perluasan model Barat, dan industrialisasi. Di daerah Gubernemen, perbaikan sarana irigasi untuk keperluan perkebunan berpengaruh baik di wilayah Kasunanan maupun Mangkunegaran. Di Mangkunegaran saluran irigasi dibangun terutama di perkebunan tebu milik Mangkunegaran, yaitu Pabrik Gula Tasikmadu dan Colomadu, sedangkan sarana irigasi di wilayah Kasunanan dibangun di daerah Klaten dan Boyolali, tempat perkebunan swasta menyewa tanah-tanah untuk penanaman tanaman pertanian, terutama tebu.
Sejak ditemukannya canting di Jawa Tengah abad 19, kegiatan membatik di Vorstenlanden menjadi industri terutama dengan tenaga perempuan. Seni membatik di Surakarta sangat dihargai sehingga kemampuan membatik dianggap penting bagi pendidikan kaum perempuan di keraton. Kerajinan batik terutama batik tulis menjadi monopoli keluarga bangsawan, kalangan kerajaan, dan kaum ningrat lainnya. Kondisi ini mnyebabkan batik, terutama batik tulis, pada abad 19 cenderung diproduksi untuk keperluan kalangan kelas berada saja sehingga indusrti batik kurang berkembang secara luas, namun pada tahun 1890-an ketika batik mulai berkembang dan dibuat oleh berbagai kalangan menyebabkan banyak bermunculan industri rumah tangga, yaitu industri batik dalam usaha kecil.
Menjelang tahun 1900, batik sudah menjadi kebutuhan dari masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan pulau-pulau lainnya. Bahkan, jangkauan pasar batik Surakarta sampai ke pulau-pulau lain di Hindia Timur, bahkan sampai ke Singapura, Suriname, dan daerah lainnya. Sampai pertengahan sampai akhir tahun 1920, produksi batik Laweyan telah memenuhi kebutuhan baik pasar lokal maupun nasional. Sebenarnya Laweyan bukan merupakan Pusat Pembatikan tetapi tempat para Pedagang batik, yang dahulunya mereka berjualan lawe. Di laweyan sendiri ada daerah yang bernama Pasar Mati yang menghadap ke arah sungai Banaran. Sungai Banaran dulunya merupakan pelabuhan yang besar dengan Syahbandarnya Ngebehi Loring Pasar. Syahbandar menerima seluruh hasil bumi yang berasal dari wilayah timur Gresik, dan masuk melalui anak sungai Bengawan Solo. Industri batik di Surakarta juga mengahadapi berbagai masalah terutama saat terjadi depresi Ekonomi pada tahun 1930-an, ekspor batik menuju Deli, Borneo, dan Singapura tehenti. Keadaan ini juga disebabkan rendahnya daya beli masyarakat dan karena tingginya persaingan batik antar pengusaha dengan pusat batik lainnya.
Pasar Gede Sebagai Salah Satu Pusat Ekonomi Surakarta
Perkembangan Ekonomi Surakarta tidak lepas dari peranan sebuah pasar sebagai tempat tukar-menukar kebutuhan sehari-hari, di salah satu sudut Kota Surakarta yang masih tersisa sebagai artefak bangunan kota lama dan menjadikan ciri khas peninggalan Kerajaan Mataram adalah Pasar Gede. Secara struktural, bangunan Pasar Gede memiliki bagian-bagian dari bangunan njobo keraton (luar kraton), yaitu tugu pemandengan ndalem, gapura gladhag, gapura pamurakan, alun-alun, masjid agung, pagelaran, dan siti (hi)nggil. Pasar Gede merupakan salah satu bangunan gaya arsitektur Jawa-kolonial, karya Herman Thomas Karsten yang juga merancang banyak bangunan di Jawa tengah, termasuk Pasar Johar di Semarang. Pasar gede pernah terbakar pada tahun 1948 dan selesai dibangun kembali tahun 1954.
Banyak para masyarakat dari daerah pedesaan yang berada di Surakarta setiap pagi akan menjual hasil bumi mereka. Namun pada tahun 1930 saat terjadi depresi ekonomi berbagai hasil bumi yang didatangkan ke Surakarta sangat melimpah namun dihargai murah. Disebutkan dalam surat kabar Dharmo Kondo bahwa pada bulan Juli 1930[23], harga barang-barang dari hasil bumi dari para pedagang yang bersal dari desa-desa sebelah timur dan selatan Kota Surakarta yang tidak sedikit jumlahnya, tetapi barang-barang tersebut cepat terjual. Hal itu terjadi dikarenakan barang-barang tersebut dihargai sangat murah. Bahkan harga barang-barang hasil bumi semakin murah dibandingkan dengan penjualan tiga atau empat bulan sebelumnya. Laporan dari desa Gedawung bahwa harga gaplek (singkong yang dikeringkan) merosot, yaitu hanya mencapai 35 sen per karung kecil. Begitu pula dengan sayur-sayuran seperti tidak ada harganya jika dijual ke pasar, seperti gori (nangka muda) berukuran besar harganya hanya mencapai 5 sen, sehingga kerja petani seakan-akan tidak berharga. Sementara itu, untuk harga beras putih di Pasar Gede Kota Surakarta juga mengalami penurunan, yang pada mulanya satu takaran harganya bisa mencapai 15 sen, tetapi pada masa Depresi Ekonomi turun menjadi 12 sen.

Daftar Pustaka:
Sidharta, Eko Budiharjdo. 1989. Konvensi dan Bangunan Bersejarah di Surakarta. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.
Larson, George D, 1990, “Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1914”, Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.